Kegiatan ini melibatkan Forum Pelaku Usaha Wisata Alam, mencakup para pemandu wisata, operator selam, pengusaha hotel dan restoran, serta perwakilan pemerintah daerah, guna menyatukan persepsi menuju ekosistem wisata yang lebih modern.
Kepala Subdirektorat Pemanfaatan Jasa Lingkungan dan Wisata Alam KSDAE, Johan Setiawan, memperkenalkan aplikasi terpadu bernama "Ayo ke Taman Nasional". Platform ini dirancang sebagai pusat pembelian tiket masuk untuk 54 Taman Nasional dan 145 Taman Wisata Alam di seluruh Indonesia.
"Wakatobi hari ini menyatakan komitmennya dan aplikasi sudah berhasil diinstal serta dioperasikan. Ini wujud nyata digitalisasi layanan. Operator wisata kini bisa memesan tiket dari jauh hari tanpa harus repot datang ke kantor taman nasional setelah tiba di pelabuhan," jelas Johan.
Melalui sistem ini, e-tiket akan dikirim langsung ke ponsel pengunjung via WhatsApp atau email. Selain memangkas birokrasi bagi operator wisata, penerapan sistem nontunai (cashless) ini juga menjadi solusi atas permasalahan klasik pengelolaan tiket.
Johan menambahkan, sistem digital ini secara otomatis menghapus praktik pengelolaan uang tunai dan penggunaan bonggol tiket fisik. "Selama ini, kerapihan pengelolaan bonggol tiket kerap menjadi catatan berulang dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK). Dengan aplikasi ini, temuan tersebut bisa ditepis karena semuanya terdigitalisasi," tegasnya.
Masyarakat dapat mengakses aplikasi tersebut melalui peramban web atau mengunduhnya di Play Store, dengan kemudahan yang menyerupai platform perjalanan komersial. Setiap transaksi akan terekam secara real-time ke dalam manifest data, Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), hingga database kunjungan nasional yang terhubung langsung dengan server pusat di Jakarta.
Dalam sosialisasi tersebut, para pelaku usaha juga dibekali pelatihan teknis mulai dari registrasi, booking, hingga simulasi pembayaran. Johan berharap, ekosistem pariwisata Wakatobi segera beralih ke sistem nontunai sepenuhnya pasca-pelatihan ini.
Lebih lanjut, Johan menyebut digitalisasi ini juga sangat menguntungkan wisatawan mandiri. Mereka kini dapat membeli tiket secara langsung tanpa harus bergantung pada agen atau operator wisata setempat.
Langkah ini dinilai sangat strategis untuk menyambut rencana pembukaan rute penerbangan langsung Bali-Wakatobi. "Ketika akses semakin mudah dan mandiri, lonjakan wisatawan pasti akan menggerakkan roda ekonomi dan menciptakan multiplier effect bagi masyarakat lokal," ungkapnya.
Ia pun mengimbau seluruh pemangku kepentingan di Wakatobi untuk bersinergi menjaga standar pelayanan. Dengan wajah pariwisata yang semakin profesional, peluang ekonomi yang tercipta dari kunjungan wisatawan diharapkan dapat dinikmati secara merata oleh warga setempat.

Posting Komentar